watch sexy videos at nza-vids!
HomeTante Bugil

 

Tags: critasex

Cerita Sex Pelangi Monokrom – Part 5

Cerita Sex Pelangi Monokrom – Part 5
tumblr_nk9qpyjteB1sj237qo1_540Pelangi Monokrom – Part 5 Part 5 : Naked Rendang Crecek. Ada yang aneh saat aku coba membuka pintu kamarku, gak kekunci. Padahal tadi sebelum berangkat kerja aku menguncinya. Aku membukanya dengan perlahan, terdengar suara gemuruh di dalam. Kyaaaaaaaaaa. Aku menjerit kaget, tv ku menapilkan gambar manusia dibungkus kain putih dengan ulat menggeliat-geliat di wajahnya yang kumuh berlumur tanah merah. Apasih, lebay banget jadi cowok, Niar dengan santainya rebahan tubuh di kasurku, kaki kanannya bergoyang-goyang menopang dengkul kirinya. Eh kok lo- Hihihhi, gue duplikat kunci kamar lo, abis di kamar gue kan gak ada apa-apa, cuma kasur, lemari kecil sama dispenser aja, tanpa perasaan bersalah Niar menunjukan kunci kamar duplikat. Kok bisa, aku masih terheran-heran di depan pintu melihat Niar yang dengan santainya menonton film horor. Niar gitu loh, cring, dia mengerlingkan mata yang berkilau. Kenapa elo gak stel dibawah aja sih, aku berjalan masuk, memalingkan muka dari layar tv yang semakin menakutkan, suara-suara demit membuat langkahku bergetar. Pada gak mau, padahal gue susah payah loh nyari film ini, mulut Niar penuh dengan makanan ringan, kaleng-kaleng minuman bertebaran di lantai kamarku lengkap dengan bungkus-bungkus makanan. Heh, perasaan kenal deh sama makanan dan minuman itu. Aku membuka pintu kulkasku, dan….kosong ? Minta, pelit amat sih. Huh. Aku hanya bisa menghela nafas panjang, menutup kembali kulkas lalu mengambil segenggam pakan ikan dan aku cemplungkan di akuariumku yang kini sedang berenang arwana kesayanganku berwarna merah menyala yang kuberi nama Mona. Bagus ya ikan cupangnya, Niar berkomentar, suara krauk-krauk terdengar nyaring di mulutnya. Serah kata ikan mas koki aja deh. Di Bandung gue juga punya ikan, kita jodohin yuk. Jenisnya apa ? Piranha. Grrrrrrrrr, sekalian aja elo jodohin sama ikan hiu. Ih jutek banget sih jadi cowok. Dah ah, gue mau mandi. Aku pikir-pikir kok Niar ini kayak penjajah ya, suka seenaknya aja sama orang. Tapi gimana ya dia bisa duplikan kunci kamarku, hhhmmmm aku coba mengingat-ngingat saat aku bersama dengan Niar. Otakku seperti merewind kejadian yang telah berlalu beberapa waktu yang lalu, dan gak tau kenapa tiba-tiba bibirku tersenyum sendiri. Gak cuma bibirku, tapi hatiku terkekeh mengingat keriangan Niar dan sifat pemaksanya dia. Heh, Niar terlihat kaget saat aku keluar dari kamar mandi, telanjang di depan cewek, mana ngaceng lagi. Ups, aku baru sadar kalo disini ada Niar, tapi gak ada niat untuk menutupi kontolku, aku mencoba santai, ini belum ngaceng kok. Hiiiiiii, Niar berpaling, mengalihakn padangan kembali ke layar tv walau terlihat gak fokus, gak malu apa ? Ini kamar gue, salah elo sendiri masuk tanpa izin gue, aku mengambil celana dalam lalu memakainya tanpa merasa risih sedikitpun, lagian elo juga di kamar gue seksi banget, cuma pake tangtop sama celana pendek banget. Masih untung gak gue perkosa lo. Emang elo selera sama anak muda kayak gue, Niar meremas toketnya dari luar tangtop, hingga tonjolannya semakin mencuat keluar. Wow gede juga, kontolku mendadak ngaceng. Aku merespon, langsung tengkurap di atas tubuhnya hingga jarak kami hanya beberapa centi saja, mencium aroma wangi rambutnya, merasakan tiap helaan nafasnya yang mulai tersengal, perlu gue buktiin ? Hhhmmm, Niar mulai meredupkan, tubuhku juga semakin menghangat, dapat aku rasakan aliran darahku yang semakin cepat. Ada celah waktu beberapa detik saat kami terdiam saling pandang, teresa hening walau suara tv bergemuruh memutar suara-suara horor. Huh, aku bangkit, coba membatalkan gejolak yang aku rasakan. Setelah aku memakai pakaian, aku mengambil koper yang tergeletak di atas lemari pakaian. Aku mengemas-ngemasi beberapa pakaian dan alat mandiku serta keperluan lainnya untuk satu minggu. Elo mau kemana ? Berlayar satu minggu. Wiiihhhh enak bener, Niar berdecak kagum, lalu dengan mata yang tajam tapi nyaris tertutup, sama emak-emak ya ? hihihihi. Hhhmmmm, aku sedikit mengerang mengiyakan pertanyaannya. Bawain oleh-oleh ya ! Hhhhmmmm, masih mengerang. Kamar ini gue pinjem ya ! Hhhmmmm, dan terus mengerang. Setelah selesai merapikan semua barang yang kubutuhkan, aku merebahkan tubuh di atas kasurku. Sengaja aku geser-geser Niar agar dia enyah dari kasur kesayanganku. Ih apaan sih, pelit amat, kasurnya lega juga, Niar mempertahankan posisinya. Udah donk jangan nonton horor mulu, aku menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku. Cemen banget sih jadi cowok, kontol doank gede, ucap Niar ketus, ihik ihik, dia bilang kontolku gede, pasti penasaran nih cewek. Aku juga penasaran bermain birahi dengan wanita muda, ah sial kontolku mulai gak bisa dikendalikan. Fokus-fokus-fokus, aku gak boleh menyia-nyiakan spermaku hari ini, aku simpan untuk kegiatan seminggu kedepan bersama para wanita yang lebih tua dariku. Huh si Niar bikin sange di waktu yang gak tepat. Gak tau sampai jam berapa Niar memutar DVD horor di kamarku, karna aku langsung terlelap dengan kuping tertutupi oleh bantal. Beberapa kali Niar coba membangunkanku tapi aku gak meresponnya, tetap berkonsentrasi untuk larut ke dalam alam mimpi, konsentrasi, biarkan diriku tertidur lebih dalam, lebih dalam lagi hingga benar-benar terlelap. 0ooo0 Setelah melewatkan perjalanan dari siang hari menuju Ancol. Kebawelan Niar tadi pagi masih terngiang-ngiang di telinga, suara yang cempreng saat memintaku membawa oleh-oleh ini itu, bahkan dia kasih daftar apa aja yang musti aku bawakan untuknya. Dan kini aku sedang berada di dalam sebuah kapal pesiar mewah yang sedang berlayar di laut Jawa.. Entah apa nama dan jenis kapal ini, aku gak peduli. Yang aku pedulikan saat ini adalah tubuhku yang sedang terbaring di atas meja makan dan dibasuh oleh alkohol 70 persen. Rileks aja ya say, ucap Evi yang baru saja mensterilkan tubuhku dengan alkohol, disini juga terdapat tiga lagi wanita yang seusia dengan Evi. Ada Sisil, Mimi, dan Kauri. Sisil mendekati tubuhku dengan sebuah piring berisi beberapa potong daging rendang, memandang lekat-lekat tubuh yang sudah gak terlindungi oleh sehelai benang. Dia mulai membaluri kedua putingku dengan bumbu rendang kemudian meletakan dua buah daging rendang di atas kedua putingku. Hhmm, sedikit geli, dan agak panas. Sisil kembali mengolesi bumbu rendang di kedua pahaku, aku sedikit menggeliat kegelian. Setelah itu dia meletakan beberapa potong rendang di pahaku. Dia menaruh piring yang telah kosong, kemudian mengambil kembali piring yang berisi dendeng paru balado. Lalu diletakan beberapa buah di atas dadaku, aroma khas masakan tercium pekat di hidungku, jadi laper. Kini giliran Mimi datang mendekat dengan piring yang berisih gulai kepala kakap. Dituangkan kuah gulai di atas perutku hingga melumer ke meja makan. Barulah diletakan kepala kakap di atas perutku. Uuhhhhh, udah selesai jeng, mata Mimi berbinar menatap tubuhku yang dihiasi masakan khas minang. Tubuhku semakin terasa panas, mungkin karna makanan yang pedas di atas tubuhku ini. Ayo kita kocok siapa yang dapat kesempatan spesial, ucap Kauri seraya menggoyang-goyangkan gelas yang ditutupi oleh kertas, dan dibolongi sedikit di bagian pinggirnya. Satu gulungan kecil keluar dari lubang, Evi membukanya dengan sangat hati-hati, dibukanya gulungan tersebut penuh harapan, tapi sesaat kemudian raut wajahnya berubah kecewa, Kauri. Yeeee, Kauri menepuk-nepuk tangannya, lalu dengan cepat memberi gelas kepada Evi. Dia bersiap hendak menyantapku, lidahnya sedikit keluar, kemudian dia sedikit merentangkan kedua kakiku. Kakinya dinaikan ke atas meja, mulutnya sedikit demi sedikit mendekati paha kananku. Sleppp, diraihnya sepotong rendang dengan kedua bibir bergincu pink, ditekan dengan gigi serinya. Mini dress tanpa lengan warna merah yang ketat tak menghalangi kegiatannya di atas tubuhku. Daging rendang yang terapit di mulutnya kini dia oleskan di pahaku, seperti menguaskan tinta dengan sangat lembut. SShhhh, aku kegelian, kaki kananku sedikit menggeliat. Kuasannya mulai merayap menuju selangkanganku. Aku menggigit bibir bawahku, kakiku mulai bergetar. Diapain kak ? aku bertanya, biji kontolku terasa geli dan basah. Kauri gak menjawab, dia terus mengolesi daging rendang diseluruh area kedua biji kontolku. Terdengar dengusan nafas Kauri yang memburu, aku perhatikan 3 wanita lainya terlihat gelisah, mereka saling mengapitkan paha mereka. Sesekali mereka tersenyum ke arahku, seperti berfikir apa yang akan mereka lakukan ketika mendapat giliran. Hhhhmmm, Kauri memasukan daging rendang ke mulutku, aku menahannya dengan gigiku. Perlahan Kauri mulai mencabik-cabik daging tersebut dengan giginya, mengunyah lalu menelannya sedikit demi sedikit. Hingga kini hanya bersisa sangat sedikit sekali terapit di gigiku. Clappp, mulut kamipun bertemu, Kauri mengorek-ngorek daging rendang yang jatuh ke dalam rongga mulutku dengan lidahnya. Semakin dalam lilitan lidahnya, jika saja aku tak mampu menahan keseimbangan, semua makanan di atas tubuhku bisa terjatuh. Teeeettttt, Evi berteriak riang, waktu habis. Huh, raut wajah Kauri terlihat kecewa, dia bangkit lalu turun dari meja makan yang kokoh. Oke, saatnya kita makan bersama, Sisil memberikan piring-piring kecil ke pada para wanita. Ho, gak dikocok lagi kakak ? aku bertanya bingung. Gak kok say, Evi membelai pipiku lembut, itu dikocok cuma buat nentuin siapa yang dapat kesempatan spesial, nyicipin sendirian dan sesuka hatinya, hihihi. Satu persatu dari mereka mengambil makanan yang ada di atas tubuhku, mengoles-ngoleskan daging di tubuhku untuk mengambil bumbunya yang juga melumuri tubuhku. Apalagi saat Sisil mencuil daging kepala kakap di atas perutku lalu, kemudian di gesekan ke ujung kepala kontolku yang setengah menegang. Hhmmm, birahiku perlahan bangkit, saat wanita-wanita itu mulai kelaparan, bukan perutnya saja yang kelaparan. Sluruppsss, Mimi menjilat kontolku dari pangkal hingga ujung setelah dia melumuri kontolku dengan kuah kuning terlebih dahulu. Kedua kakiku langsung bergetar, sapuan lidah dari bibir yang sedikit agak tebal namun sensual membuat kontolku semakin tegak berdiri. Keempat wanita bersorak. Evi mengambil dendeng paru yang ada di dadaku, bukan dengan garpu ataupun sendok, tapi dengan mulutnya seperti yang tadi Kauri lakukan. Lalu dengan mulut yang sedang mengapit dendeng dia masukan ke dalam mulutku. Kami berciuman sambil saling menggigit-gigit dendeng, suara krauk terdengar nyaring. Saat berciuman sambil memakan dendeng, kontolku terasa geli dan panas, lalu ada mulut yang mengulumnya sangat cepat hingga menghasilkan gemericik dari peraduan bibir dan batang kontolku. Sebisa mungkin aku menahan tubuhku untuk gak terlalu aktif bergerak, agar makanan yang masih tersisa di atas tubuhku gak berjatuhan walaupun hanya tinggal beberapa saja sepertinya. Para wanita sepertinya semakin liar, entah lidah siapa saja yang kini sedang menjilati bumbu-bumbu makanan di atas tubuhku. Menari-nari di atas dadaku lalu menggigit-gigit kecil putingku. Lalu menguak-nguak lubang pusarku dan menghisapnya kuat-kuat. Yang paling membuatku semakin gemetar, kuluman di batang kontolku yang semakin berdecik-decik, hingga mengemut dan menarik-narik biji kontolku. Oouugghhh yeaah, aku setengah menjerit dalam kuluman bibir mungil Evi. Aku sudah gak tau apa yang mereka lakukan di atas tubuhku, rasa geli, ngilu, nikmat serta panas berkumpul jadi satu. Gila aja, makanan pedas khas minang mereka santap di atas tubuhku. Aku masih terpaku dengan tubuhku yang terlentang lurus, mereka gak mengizinkan aku untuk menekuk sedikit bagian tubuhku yang mulai terasa pegal karna semakin lama jilatan mereka semakin membuat otot-ototku menegang. 0ooo0 Aku kini bersandar pada pagar besi kapal pesiar, dengan hanya berbalut handuk kimono, menatap pemandangan langit malam di tengah laut. Tubuhku masih terasa panas walau sudah berendam setengah jam lebih. Hai Rama, Sisil mendekapku dari belakang. Eh kakak, gak ikut gabung ? Udah pada teler hihihi, tangan Sisil mulai merayap masuk ke dalam kimonoku. Sssshhhhh, enak banget kak, aku mendesah pelan saat tangan lembut Sisil membelai-belai kontol dan juga bijinya. Kamu suka ? dia berbisik, menghembuskan nafas wanginya ke sela-sela telingaku. Ada kodok trekotok-trekotok di pinggir kali trekotok-trekotok, mencari makan trekotok-trekotok Suara ringtone hapeku mengagetkan kami berdu, getarannya menggoyang-goyangkan kantong kimonoku. Segera aku mengambilnya dan terlihat nama Niar tertera di layar hapeku. Sementara Sisil langsung melepas belaiannya. Ram…. Rama gaswat Ram, suara khas Niar yang nyaring memekakan telingaku. Napa sih Ni, heboh banget. Tadi kan gue lagi goreng krupuk di kamar lo, eh ikan cupang lo lompat dari akuarium Ram. Heh, emang elo buka akuariumnya ? Iya, tadi pas gue mau kasih makan, lupa gue tutup lagi. Terus, ikan gue gimana ? Gue ambil dari lantai, tapi gue lupa bukannya masukin ke akuarium malah gue cemplungin ke penggorengan, jadi mateng deh sekarang. DYAAARRRRRR, langit sepertinya mau runtuh, arwana kesayanganku oh madapakeh. Tapi enak juga ya ikan cupang elo Ram, udahlah Ram gak usah sedih, mungkin ini udah jalan terbaik buat dia. Nanti gue kabarin deh sama piranha gue, kalau calon bininya udah almarhum. Ini cewek dari nada suaranya gak ada rasa penyesalan sedikitpun, bahkan terdengar sayup-sayup suara decapan lidah. Kayaknya dia nelpon sambil makan ikan arwana kesayanganku. Aku mencurigai ada unsur kesengajaan nih, diakan orangnya rakus juga, kulkas aku udah dia habisin isinya, pasti dia kelaperan terus liat arwanaku. Bersambung
Back to posts
This post has no comments - be the first one!

Post a comment