watch sexy videos at nza-vids!
HomeTante Bugil

 

Cerita Sex Jamuan Seks Di Pedalaman Sulawesi – Part 10

multixnxx-Black hair, Ponytail, Asian, Blowjob, Scho-8Jamuan Seks Di Pedalaman Sulawesi – Part 10 Ritual penyambutan tamu suku ini memang agak aneh. Sebuah cara penyambutan tamu yang diluar dari tradisi suku bangsa manapun didunia ini, mungkin begitu. Aku pernah membaca posting disebuah blog tentang tradisi suku yang ada di suatu negara Asia. Suku itu mempunyai kehidupan seks bebas. Tradisi free sex, incest dan segalanya bukanlah hal yang tabu bagi mereka. Para Wanita bebas memilih siapa saja pria yang akan menjadi pasangannya dalam melakukan hubungan seks, dan hak memilih ini hanya dimiliki oleh wanita. Seorang pria tak boleh memaksakan kehendaknya, dia mesti menerima keputusan sang wanita. Jika wanita itu menerimanya menjadi pasangan berhubungan seks, maka boleh si pria berhubungan seks dengan wanita itu, namun jika si wanita menolaknya, maka si pria harus mundur dan tak boleh mengganggu si wanita. Hal ini bukanlah melecehkan wanita dalam arti para pria boleh dengan sesuka hati melakukan seks dengan wanita manapun, malah sebaliknya, wanitalah yang bebas melakukan seks dengan pria manapun yang diinginkannya. Tradisi ini justeru dianggap merupakan pengakuan kekuasaan Wanita atas pria. Agak sedkit berbeda dengan tradisi suku Lihito. Disini para pria yang berkuasa atas wanita. Namun bukan berarti para pria bebas melakukan hubungan seks dengan wanita manapun yang disukainya. Semuanya ada syarat dan ketentuan. Pria boleh melakukan seks dengan wanita manapun asalkan dia telah melalui suatu ritual yang dijalaninya yang dinamakan Bundato, dipimpin oleh orang yang dianggap diberi mandat oleh Penguasa darat dan Penguasa Langit. Bundato maksudnya merintis jalan. Dalam bahasa suku Lihito artinya memutuskan batasan atau mengresmikan. Dalam hal ini seorang tamu pria akan menjalani ritual Bundato seperti yang telah dijalani Anton, dan seorang tamu wanita akan menjalaninya juga seperti yang akan aku jalani. Ya…., aku akan menjalani ritual itu. Ritual yang lebih asyik jika aku namakan ritual nikmat… hehehehehe ********************** Kulihat Tapulu berdiri ditengah wadah, bugil…., dan tongkat sakti di selangkangannya itu…… ! Meskipun vaginaku sudah berulang kali menjadi tempat bersarangnya penis Anton, namun ketika melihat kepunyaan Tapulu….., agak ngeri juga…. Tongkat sakti dengan urat-urat besarnya, kepala yang mirip topi baja tentara yang sangat besar, panjang dan kokoh…. nampaknya begitu. Mbui perlahan menarik tanganku berjalan melangkah naik ke atas altar. Tubuh bugilpun mendekati Tapulu yang dengan gagahnya berdiri dengan tongkat saktinya yang sangat luar biasa. Agak gugup aku mendekat, lalu duduk disebuah bangku kecil yang sudah tersedia. Wajahku menghadap ke arah Tapulu, dan otomatis tongkat sakti Tapulu mengacung tepat sejajar dengan wajahku. Dadaku berdebar kencang, ada rasa penasaran dalam hatiku, kira-kira seperti apa rasanya jika dihujami oleh benda yang super seperti ini. Dihujami oleh penis Anton saja aku sudah setengah mati menahan rasa lemas karena orgasme berulang kali serta rasa penuh di vagina, apalagi jika benda panjang gede berurat dengan kepalanya yang mengerikan itu mengaduk-ngaduk liang kenikmatanku…., wuah.. pasti liangku tak akan sanggup menampungnya, mungkin butuh tambahan perluasan wilayah dalam liangku itu…. hihihi. Guyuran air sejuk menyirami kepalaku, membasahi rambut dan wajahku. Tapulu dengan pelan menyiramkan air dari bambu sambil mulutnya komat kamit melafal mantera, entah mantera apa dan untuk apa. Air mengalir membasahi seluruh tubuhku. Satu tabung air habis, dilanjutkan lagi dengan tabung kedua, dan habis lagi. Nah, Lusi berbaringlah… Perintah Tapulu. Aku menuruti perintahnya tanpa protes. Setelah aku membaringkan tubuhku terlentang, Tapulu merenggangkan kedua kakiku berjauhan, hingga belahan vaginaku agak terkuak. Tapulu meraih sebuah kantung yang terbuat dari serat kayu yang dianyam, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil. Dicelupkannya dua jarinya di kotak itu, kulihat jarinya kini berwarna kecoklatan. Tapulu pun mengoleskan cairan yang menempel dijarinya ke seluruh batang penisnya. Berulang kali dioleskan hingga seluruh batangnya telah dilumuri oleh cairan kecoklatan. Entah caran atau minyak apa itu, aku tak tahu. Aku menanti apa yang akan dilakukan Tapulu selanjutnya dengan dada berdebar. Dengan pelan Tapulu jongkok sambil memegang batangnya dengan tangan kanannya, lalu tangan kirinya perlahan mengusap vaginaku, lalu dengan dua jarinya dia menyibak belahan vaginaku. Digesekkannya dengan pelan ujung penisnya pada clitorisku, menimbulkan sensasi luar biasa, seperti aliran listrik yang menyengat dan mengirimkan sinyal-sinyal aneh ke seluruh tubuhku. Cairan kewanitaanku mulai keluar, sebagai reaksi dari gesekan penis Tapulu. Kupejamkan mataku, mencoba menikmati letupan birahi yang datang dengan cepatnya. Uhhhmmmm…., tak ada kalimat lain yang sanggup kuucapkan selain desahan itu. Sungguh nikmat. Tak lama kemudian saat vaginaku semakin banjir, aku mulai merasakan belahan vaginaku terkuak sedikit demi sedikit. Ada sebuah benda yang sedang berusaha menerobos masuk. Rasanya seperti sedang berusaha memasukkan kepalan tangan ke dalam mulut, agak sulit masuk karena liangku sempit, atau mungkin benda itu terlalu besar untuk ukuran liangku. Uhhhgghhhggg… hsshhhhshhh… desahku. blessssshhhhhh awwwwwwwwwhhhhh…! Benda besar panjang berurat itu masuk dengan paksa kedalam vaginaku. Perih terasa. Oh no..!, Tapulu sudah berhasil mendorong masuk penisnya. No.. No…, aku tak percaya…! Its imposible…! aku tak sanggup…! tak sanggup menahan rasa perih, tapi ada juga rasa nikmatnya. Liang vaginaku terasa sangat penuh, sangat penuh, tak ada celah sedikitpun yang ada, sesak…, mentok ….! Tapulu mendiamkan penisnya. Wow ! luar biasa sensasi nikmat yang ditimbulkan oleh penisnya yang berdenyut-denyut dalam liang vaginaku. Dengan cepat otot-otot vaginaku beradaptasi dengan benda asing yang sedang menggeseknya. Reaksi baliknya adalah cairan pelumas yang mulai mengolesi penis Tapulu keluar dari dinding-dinding rahimku. Ada sedikit rasa asing dan aneh, dan tak pernah aku rasakan selama ini, termasuk dari gesekan penis Anton setiap kali kami bersetubuh. Liang vaginaku seperti sedang berkontraksi dan penis yang diam tak bergerak itu seperti sedang mengaduk-ngaduk liangku, vaginaku seakan mersepon sendiri denyutan itu tanpa perintah otakku. Ada seperti rasa dingin dan hangat, rasa seperti mint, namun perlahan menciptakan getaran birahi yang sangat dahsayat, menjalar dari ujung kakiku menyebar ke seluruh tubuh. Owh,,, ini mungkin cairan yang dioleskan oleh Tapulu pada penisnya tadi. Luar biasa..! tanpa memompa penisnya keluar masuk Tapulu sanggup membuatku seperti ini. Rasa perih berangsur hilang, berganti rasa nikmat yang tak bisa dilukiskan. Getaran yang semula kecil itu mulai berubah menjadi sebuah gelombang dahsyat yang menggetarkan seluruh tubuhku, lalu semburan cairan vaginaku keluar dengan dahsaytnya. Arrrgggghhhh……. aku orgasme. Aku orgasme ? iya aku orgasme. Dahsyat, nikmat luar biasa. Senikmat inikah penis pria pedalaman ? dan aku tak percaya, tanpa memompa sedikitpun bisa menghasilkan orgasme yang sangat luar biasa padaku ? Belum selesai aku menikmati orgasme pertamaku, Tapulu mulai memompa penisnya keluar masuk. Awalnya perlahan, lama kelamaan semakin cepat. Tubuhku bergoyang seiring hentakan paha dan penis Tapulu. Aku tak menghiraukan dimana dan lagi apa Anton sekarang. Aku tak menghiraukan Mbui yang sedang asyik menonton kami, aku juga tak peduli dimana Muna, Muni, pelayan rumah, dan lebih tak peduli lagi pada tubuhku yang sudah makin lemas oleh serangan-serangan orgasme yang diciptakan oleh gesekan penis Tapulu. Aku terus menjerit keenakan, meracau tak karuan, mengejan, teriak, terus begitu selama lebih dari sejam kira-kira, hingga sebuah semprotan keras diliang vaginaku menyempurnakan kenikmatan dahsyat yang tengah aku alami. Tapulu mencapai klimaks setelah lebih dari sejam menghajarku dengan penis gagahnya. Banyak dan lama cairan spermanya menyemprot. Tapulu mendiamkan penisya dalam vaginaku. Tubuhnya mengejan, namun tidak roboh di atas tubuhku. Dia masih saja dalam posisi jongkok diantara kedua pahaku. Penis itu masih menancap sempurna dan masih keras. Tak ada sedikitpun cairan spermanya yang kurasa mengalir keluar dari belahan vaginaku, saking besarnya hingga tak ada celah sedikitpun untuk menjadi jalan keluar cairan spermanya. Sungguh permainan yang sangat luar biasa, dan aku yakin tak satupun wanita diluar sana yang pernah merasakan kenikmatan orgasme sperti ini. Ohhh…Tapulu…, sekali lagi bikin aku lemas…, bikin tulangku lepas dengan hentakanmu, penuhi vaginaku dengan spermamu…. ucapku menatap Tapulu dengan birahi. Aku ingin lagi dan lagi. Kenikmatan langka ini tak boleh aku biarkan sedetikpun berhenti. Tak peduli persendianku yang terasa mau copot. Aku ingin dan ingin terus sepanjang hari. Dan Tapulu pun seakan tak pernah habis tenaganya terus melesakkan penisnya kedalam vaginaku. Terus dan terus…., Aku orgasme berulang kali, tak sempat kuhitung, lebih dari belasan kali kenikmatan itu menyerangku. Hingga sore hari menjelang barulah kami menghentikan kegiatan dan ritual yang Maha Nimat itu. Dengan dipapah Mbui aku dimandikan lagi ditepi danau. Tubuhku dibersihkan, bukan olehku, tapi Mbui. Aku hampir tak lagi sanggup berdiri dengan tegap. Lemas se lemas-lemasnya…, dan rasa nikmat masih terus kurasa…., pada malamnya, hingga menjelang pagi. Antoooonnnn….! Terima kasih kau telah mengijinkan aku mengenal mereka…!
Back to posts
This post has no comments - be the first one!

Post a comment